10 Puisi untuk hari ibu

Puisi untuk hari ibu

hari ibu


Hari ibu - Hari ibu yaitu setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya.Makna yang ada di hari ibu sangatlah berarti dan bermakna,karena hari itu adalah moment yang tepat buat ungkapin rasa sayang dan terimakasih kita kepada ibu.
karena banya jasa dan perhatian dari ibu yang sudah ditanam di dalam kalbu kita.Dari kita lahir ke dunia hingga kita dewasa hingga sekarang.Sudah sepatutnya kita membalas kasih ibu dengan apapun yang kita miliki.Salah satunya adalah hati kita lewat puisi untuk hari ibu,sebagai bentuk nyata cinta dan kasih kita pada ibu tercinta.
untuk itu kami akan memberikan beberapa contoh puisi untuk hari ibu yang pastinya sangat recommend buat kalian yang ingin mengucapkan selamat hari ibu kepada ibu tercinta.

sebelum kita lanjut ke bawah saya ingin memberikan sedikit info mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin berbagi puisi,pantun,dan cerpen kalian bisa kirim ke alamat email dibawah ini
sertakan juga tentang apa isi dari puisi dan pantun yaang kamu kirim
Terima Kasih 


Puisi Hari IBU



BUNDA AIRMATA

Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan air mata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih
Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan
Menangislah banyak-banyak untuk Ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun untuk membuat Tuhan
naik pitam kepada hidupmu
Kalau Ibundamu menangis, para malaikat menjelma
butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dr airmata ibunda
membuat para malaikat itu silau dan marah
kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala
menutup pintu sorga bagimu


KEMBALILAH BU

Di tengah malam yang suci,
Aku hanya termenung
Melihat potret yang sudah tertumpuk debu
Aku pun teringat masa-masa dulu
Ketika aku manja
Dan kau belai dengan tangan lembutmu
Juga dengan jari halusmu
Hingga aku tertidur di pangkuanmu.
Namun kini hanyalah kenangan
Tak ada lagi sentuhanmu di kepalaku
Tak ada lagi pelukmu yang hangat
Tak ada lagi yang mengantarku tidur dengan dongengmu
Ibu,
Kenapa kau meninggalkanku
Kau begitu cepat berlalu di dunia ini
Kini aku rapuh
Karena tanpa kau di sini
Aku tak bisa berjalan di hidup ini
Tanpa ada motivasi darimu
Ibu,
Aku mohon,
Kembalilah ke sini
Jangan biarkan aku sendiri di sini
Aku sangat merindukanmu 


SAJAK IBU

Ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
Tetapi menangis ketika aku susah
Ibu takbisa memejamkan mata
Bila adikku tak bisa tidur karena lapar
Ibu akan marah besar
Bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
Ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
Ketabahan ibuku
Mengubah rasa sayur murah
menjadi sedap
Ibu menangis ketika aku mendapat susah
Ibu menangis ketika aku bahagia
Ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
Ibu menangis ketika adikku keluar penjara
Ibu adalah hati yang rela menerima
Selalu disakiti oleh anak-anaknya
Penuh maaf dan ampun
Kasih sayang Ibu adalah kilau sinar kegaiban Tuhan
Membangkitkan haru insan
dengan kebijakan
Ibu mengenalkan aku kepada Tuhan


RINDU IBU

Bu,
Kau adalah cahaya
Di pagi hingga malam
Terus menyinariku
Kau menghangatkanku
Dengan sayang dan cintamu
Bu,
Kau adalah makna hidupku
Kau mengajariku segalanya
Hingga aku bisa berdiri
Di sini, di kehidupan nyata
Bu,
Aku begitu lemah tanpamu
Andai aku bisa memelukmu kini
Aku ingin menyampaikan semuanya padamu
Apa yang sudah kulalui hari ini
Tapi kini kau tak ada
Ibu,
Kau tak pernah tergantikan
Dengan apapun
Selamanya 


PUISI IBU

Pernah aku di tegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai
Ibu . . . . .
Pernah aku merajuk
Katanya aku manja
Pernah aku melawan
Katanya akudegil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah
Ibu . . . . .
Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
dan bila aku mencapai kejayan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan
Namun . . . . .
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu….
Ibu . . . . .
Aku sayang padamu….
Tuhanku….
Aku bermohon padaMu
Sejahterahkanlah dia
Selamanya…..


UNTUKMU BU

Bu,
Sembilan bulan aku di perutmu
Hingga mengganggu tidurmu
Pagi ke malam kau terus gelisah
Menanti akan hadirku di hidupmu
Bu,
Bertaruh nyawa
Agar aku bisa hidup di dunia ini
Kau menahan sakit yang tiada tara
Hingga air matamu mengalir
Air mata itu adalah kebahagiaanmu
Ketika kau mendengarkanku
Mendengar tangisan pertamaku di dunia ini
Kau ikhlas
Air susumu untukku
Kau rela
Terbangun di tengah malam
Hingga aku besar dengan kasih sayangmu
Terimakasih bu,
Atas semua pengorbananmu
Untukku
Entah dengan apa aku membalasnya
Bu,
Aku berjanji
Akan menjagamu
Akan menyayangimu
Selalu
Tak ingin kau terluka
Tak ingin hatimu terpukul
Karena aku sangat mencintaimu 


IBU

Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan
Pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan
Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati dan pengampunan
Manusia yang kehilangan ibunya berarti kehilangan jiwa sejati yang memberi berkat
dan menjaganya tanpa henti
Segala sesuatu di alam ini melukiskan tentang susuk Ibu
Matahari ada lah ibu dari planet bumi yang memberikan makanannyadengan
pancaran panasnya
Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari sampai matahari
meminta bumi untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan dan siulan burung-
burung dan anak-anak sungai
Dan bumi adalah ibu dari pepohonan dan bunga-bungan menjadi ibu yang baik
bagi buah-buahan dan biji-bijian
Ibu sebagai pembentuk dasar dari seluruh kewujudan dan adalah roh kekal, penuh
dengan keindahan dan cinta


RINDU INI

Andai aku bisa berangan-angan
Anda aku bisa menulis di udara
Ingin kutulis namamu Bu
Hingga menjulang ke angkasa
Dan kulukis wajahmu di sana
Ingin sekali kutulis sepucuk surat
Untukmu perempuanku, Ibu
Karena aku rindu

Bulan untuk Ibu
Ibu, di tubuhmu yang tabu untuk kusentuh
Kulabuhkan ingatan keparat dan menyesakkan
demi sebait puisi yang menjadikan engkau bulan
Akan bangkit gairah yang runtuh
Meski ajal dan kepulangan terlanjur sudah dijanjikan
Tungku-tungku telah dinyalakan
Kutu-kutu telah ditindas
dari rambut. Sagu-sagu telah di tebang
dari lahan gambut. Susu-susu sudah di peras
dari setiap daging yang tumbuh
Padi-padi telah ditumbuk
dari lumbung dan lesung
Lalu, apalagikah yang belum genap
dari tubuhmu, Ibu ?
Di tubuhmu bersarang seluruh
rangrang dan burung-burung
luruh sayap. Pisau tak bersarung
Alu yang berderap. Pun sepatu dan debu
Bumbu-bumbu dan warung kopi
penuh cakap
tapi tidak tentang kepulangan ! Biarlah, Ibu,
kepulangan menjadi milikku seseorang,
milik ajal dan gairah tak tertahankan
Agar bangkeit segala yang runtuh,
Hingga tubuhmu tak lagi tabu aku sentuh
dengan tangan panjang kenanganku
Begitulah Ibu, tuubuhmu menjelma jadi sepotong labu
dalam arus pikiranku
hijau, telanjang, berlumut, terapung hanyut
ke laut pengembara
Maka di ujung puisi ini, sebelum turun hujan
Kujadikan engkau bulan.


BUATLAH IBU BAHAGIA

Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan air mata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih
Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan
Menangislah banyak-banyak untuk Ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun untuk membuat Tuhan
naik pitam kepada hidupmu
Kalau Ibundamu menangis, para malaikat menjelma
butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda
membuat para malaikat itu silau dan marah
kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala
menutup pintu sorga bagimu


0 Response to "10 Puisi untuk hari ibu "

Post a comment